Bab 2Tombol Ikuti yang Disesali

4 menit baca853 kata

Nala

Aku punya satu kebiasaan buruk yang seharusnya sudah kuhentikan sejak lama.

Aku terlalu penasaran.

Bukan penasaran dalam arti ingin tahu gosip tetangga atau mencari tahu siapa yang diam-diam mengambil puding di kulkas kantor. Bukan. Penasaran versiku jauh lebih merepotkan. Aku bisa menghabiskan setengah jam membaca ulasan restoran yang bahkan tidak akan kudatangi. Aku juga bisa membuka profil orang asing hanya karena satu komentarnya terdengar menyebalkan.

Dan malam ini, aku baru saja mengikuti akun seorang laki-laki yang lima puluh menit lalu bahkan tidak kukenal.

Masalahnya, laki-laki itu makan mi instan pakai nasi.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku masih dipenuhi perdebatan receh di kolom komentar. Entah kenapa, dari jutaan topik yang bisa diperdebatkan manusia modern—ekonomi, politik, masa depan dunia—aku justru menghabiskan malam untuk berdebat dengan orang asing soal karbohidrat.

Begitu pintu apartemen terbuka, aroma mi goreng langsung menyambutku.

Aku mengerutkan dahi.

"Jangan bilang kamu masak mi lagi."

Mira muncul dari dapur sambil membawa piring.

"Aku lapar."

"Kamu makan mi jam segini?"

Mira mengangkat bahu. "Tenang. Aku nggak pakai nasi."

Aku meletakkan tas di sofa.

"Bagus."

Mira menyipitkan mata.

"Tunggu dulu. Kenapa jawabanmu terdengar emosional?"

"Nggak emosional."

"Kamu habis debat di internet lagi, ya?"

Aku diam selama dua detik.

Itu sudah cukup untuk membuat Mira tahu jawabannya.

"Oke, cerita."

Aku menjatuhkan tubuh ke sofa.

Apartemen kecil yang kutinggali bersama Mira sudah menjadi saksi hampir semua keputusan buruk dalam hidupku: membeli sepatu diskon yang ukurannya kekecilan, memotong poni sendiri saat pandemi, dan sekarang, mengikuti akun seseorang yang kukenal gara-gara mi instan.

Mira duduk di sebelahku sambil membawa piring.

"Jadi?"

"Aku habis debat sama orang."

"Soal?"

Aku menatapnya.

"Mi instan."

Mira berkedip.

"Maaf, aku kira kita sudah dewasa."

"Dia bilang mi instan tanpa nasi itu cuma camilan."

Mira terdiam beberapa saat, lalu meletakkan garpunya.

"Maaf, siapa orang gila ini?"

"Nah, itu."

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka profil Luma.

Mira mendekat.

"Namanya Luma?"

"Iya."

"Kamu tahu namanya?"

"Itu nama akunnya."

"Tapi kamu ingat."

"Aku cuma lihat."

"Berapa kali?"

Aku membuka mulut, berniat membela diri, tetapi tidak jadi.

Mira tertawa kecil.

"Nala, kamu ini gampang ditebak."

"Aku cuma penasaran."

"Nah, kalimat itu. Setiap kali kamu bilang 'aku cuma penasaran', biasanya hidupmu mulai berantakan."

Aku mendengus pelan.

"Lebay."

"Orang yang debat soal mi instan sampai buka profil lawannya tidak berhak mengatakan kata 'lebay'."

Aku memutuskan untuk tidak menanggapi.

Sebagai gantinya, aku kembali melihat profil Luma.

Foto pertama adalah meja kerja yang penuh kabel dan secangkir kopi.

Foto kedua memperlihatkan langit sore dengan caption, 'Deadline lebih menakutkan daripada film horor.'

Aku terkekeh pelan.

"Lumayan lucu juga."

Mira langsung menoleh.

"Hah?"

"Nggak ada."

"Tadi kamu bilang lucu."

"Aku bilang caption-nya lucu."

"Caption itu ditulis sama orangnya."

Aku menghela napas panjang.

Kenapa aku tinggal serumah dengan manusia yang hobi membantah?

Aku kembali menggulir layar.

Ada foto-foto desain, foto laptop, foto kopi, dan entah kenapa, banyak sekali foto hoodie hitam.

Aku berhenti di sebuah unggahan.

"Lihat ini."

Mira ikut melihat layar ponselku.

Foto itu diunggah tiga tahun lalu.

Seorang laki-laki berdiri di pinggir jalan dengan jas hujan hijau yang terlalu besar, helm yang masih terpasang, dan sandal jepit. Di sebelahnya, sebuah motor terlihat seperti baru saja kehilangan semangat hidup.

Aku membaca caption-nya.

Kadang hidup memang tidak sesuai rencana. Contohnya motor saya.

Mira langsung tertawa.

"Kenapa dia unggah foto beginian?"

"Aku juga nggak tahu."

"Kasihan motornya."

"Kasihan orangnya."

Kami tertawa bersamaan.

Jujur saja, aku tidak menyangka akan menemukan foto seperti itu. Media sosial biasanya dipenuhi foto-foto terbaik seseorang. Foto saat liburan, saat tampil keren, atau setidaknya saat rambut tidak berantakan.

Tapi orang ini justru mengunggah foto dirinya bersama motor mogok.

Aneh.

Tapi lucu.

Aku memperbesar foto itu.

"Ekspresinya pasrah banget."

"Kalau motorku mogok saat hujan, ekspresiku juga begitu."

Aku mengangguk pelan.

Masuk akal.

Tanpa sadar, jariku bergerak.

Aku bermaksud menggeser foto berikutnya.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya.

Ikon hati di bawah foto itu tiba-tiba berubah merah.

Aku membeku.

Mira masih tertawa, belum menyadari apa yang baru saja terjadi.

Sementara aku, mendadak lupa cara bernapas.

Jantungku berdetak lebih cepat.

Tidak.

Tidak, tidak, tidak.

"Mira."

"Hm?"

"Aku barusan..."

Aku menelan ludah.

"...nge-like fotonya."

Mira menatapku.

"Ya udah."

"Foto tahun dua ribu dua puluh tiga."

Butuh waktu sekitar dua detik sampai informasi itu diproses oleh otak Mira.

Lalu dia tertawa begitu keras sampai hampir menjatuhkan piring.

"HAHAHA! Nala, kamu lagi ngapain di tahun 2023?"

"Jangan ketawa!"

"Serius, kamu nyari apa sampai sejauh itu?"

"Aku cuma lihat-lihat!"

"Lihat-lihat sampai zaman dinosaurus?"

Aku buru-buru membatalkan tombol suka itu.

Tanganku sampai gemetar.

"Udah, udah hilang."

Mira mengusap air matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa.

"Selamat."

"Apanya?"

"Kamu resmi menjadi detektif media sosial."

"Aku mau pindah kota."

"Kalian bahkan belum pacaran."

"Justru itu masalahnya!"

Mira tertawa lagi.

Aku melempar bantal ke arahnya.

Sayangnya, refleksnya terlalu bagus. Bantal itu ditangkap begitu saja.

"Tenang."

"Aku nggak tenang."

"Paling dia nggak lihat."

Aku menatap Mira.

Dia menatapku balik.

Kami terdiam beberapa detik.

Lalu Mira berkata pelan, "Eh... memangnya Instagram ngirim notifikasi, ya?"

Aku langsung membeku untuk kedua kalinya malam itu.

"Mira."

"Iya?"

"Aku benci kamu."

Mira tertawa sampai harus memegang perut.

Sementara aku menatap foto motor mogok itu sekali lagi sambil berharap satu hal:

Semoga laki-laki bernama Luma itu sedang tidur lebih awal malam ini.

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Beri Reaksi

Masuk untuk memberi reaksi

Cerita selesai dibaca

Satu cerita selesai. Mau mulai cerita berikutnya?