Bab 1Mi Instan dan Perang Komentar

4 menit baca840 kata

Luma

Hujan di Bandung selalu punya dua kemampuan luar biasa: membuat orang ingin tidur lebih cepat atau membuat orang mempertanyakan seluruh pilihan hidupnya.

Malam itu, aku sedang berada di pilihan kedua.

Jarum jam di sudut layar laptop menunjukkan pukul 20.37. Sudah hampir dua jam aku menatap desain poster untuk sebuah kedai kopi baru yang, menurut klienku, harus terlihat "mewah, sederhana, ramai, tapi tetap minimalis."

Aku mengusap wajah pelan.

Di meja kerjaku ada dua gelas kopi dingin, sebungkus keripik yang tinggal remah-remah, tiga kabel charger yang entah milik siapa, dan secarik kertas bertuliskan daftar revisi.

Aku membaca pesan terbaru dari klien untuk ketujuh kalinya.

"Mas, desainnya bagus, tapi kurang elegan. Tolong dibuat lebih modern, tapi jangan terlalu modern. Kurang ramai, tapi jangan terlalu sepi."

Aku mendongak ke langit-langit kamar kos.

"Pak, Bapak sebenarnya mau bikin poster atau teka-teki?"

Tentu saja tidak ada yang menjawab. Bahkan cicak di dinding pun memilih diam.

Kamar kosku tidak terlalu besar. Kasur berada di pojok kanan, meja kerja di dekat jendela, dan lemari pakaian yang lebih sering kugunakan untuk menyimpan kardus bekas daripada pakaian.

Di luar, hujan turun semakin deras. Suara air yang menghantam genting bercampur dengan musik lo-fi yang sejak tadi mengalun dari laptop.

Aku merebahkan diri ke kursi.

"Kalau begini terus, umur tiga puluh aku sudah botak."

Ponselku tiba-tiba bergetar.

Raka menelepon.

Aku mengangkat telepon itu sambil memutar kursi.

"Kenapa?" tanyaku tanpa basa-basi.

"Astaga, nada bicara lu kayak debt collector."

"Gue lagi revisi."

"Masih revisi klien kopi itu?"

"Iya."

Raka tertawa di seberang sana.

"Gimana revisinya?"

Aku menarik napas panjang.

"Katanya desainnya kurang elegan, tapi jangan terlalu elegan."

Hening dua detik.

"Lah, maksudnya apa?"

"Itu juga yang pengin gue tanyain."

Raka tertawa keras sampai suaranya pecah.

"Lu tahu nggak? Kadang gue mikir, klien-klien lu itu sebenarnya bukan butuh desainer."

"Terus?"

"Mereka butuh cenayang."

Aku mengangguk pelan.

"Masuk akal."

"Ngomong-ngomong, lu udah makan belum?"

Aku melirik jam.

Belum.

Perutku bahkan baru saja mengeluarkan suara yang terdengar seperti protes dari serikat pekerja.

"Belum."

"Masak."

"Males."

"Pesen online."

"Dompet gue lagi ikut puasa."

Raka tertawa lagi.

"Lalu malam ini lu mau makan apa?"

Aku membuka lemari kecil di bawah meja. Di dalamnya ada tiga bungkus mi instan rasa ayam bawang.

Aku mengangkat salah satunya.

"Mi instan."

"Doang?"

Aku berpikir sebentar.

"Nggak."

"Nambah telur?"

"Nggak."

"Nambah sosis?"

"Nggak."

"Nambah apa?"

Aku tersenyum tipis.

"Pakai nasi."

Hening.

Lima detik.

Sepuluh detik.

Lalu suara Raka terdengar sangat pelan.

"Lu sadar nggak, itu karbohidrat ketemu karbohidrat?"

"Persahabatan kita juga manusia ketemu manusia. Kenapa nggak dipermasalahkan?"

"Logika macam apa itu?"

"Logika orang lapar."

Raka mendecak.

"Serius, Lum. Suatu hari dokter bakal nulis jurnal tentang kebiasaan makan lu."

"Bagus. Setidaknya gue berkontribusi buat dunia pendidikan."

"Gue nyesel nelpon."

Aku tertawa kecil.

Jujur saja, salah satu alasan aku masih waras menjalani hidup sebagai freelancer adalah karena Raka. Kami berteman sejak kuliah. Dia fotografer freelance yang merasa dirinya pakar percintaan, padahal sampai sekarang belum pernah pacaran.

"Kopi lu masih ada?" tanyanya.

"Masih."

"Dingin?"

"Sedingin chat mantan lu."

"Brengsek."

Aku tertawa puas.

Di luar, hujan semakin deras. Udara dingin mulai masuk dari celah jendela yang belum kututup rapat.

"Oke, gue masak dulu."

"Masak yang bener."

"Mi instan pakai nasi itu masakan yang bener."

"Kalau nanti ketemu jodoh gara-gara mi instan, kabarin gue."

"Siap, Chef."

Telepon ditutup.

Aku melempar ponsel ke kasur, lalu berjalan ke dapur kecil di ujung lorong kos.

Dapur itu bahkan terlalu sederhana untuk disebut dapur. Hanya ada kompor gas, wastafel, dan rak plastik yang dipenuhi panci.

Aku menyalakan kompor, menuangkan air ke panci, lalu menunggu sambil bersandar ke dinding.

Di saat-saat seperti ini, hidup terasa aneh.

Pagi sampai sore berkutat dengan desain.

Malam ditemani hujan.

Lalu makan mi instan sambil berharap klien tiba-tiba sadar bahwa revisinya tidak masuk akal.

Air mulai mendidih.

Aku memasukkan mi, bumbu, dan—tentu saja—nasi yang tadi kupanaskan.

Sepuluh menit kemudian, semangkuk mi instan lengkap dengan nasi putih tersaji di atas meja.

Jujur, tampilannya memang tidak terlalu meyakinkan.

Tapi baunya luar biasa.

Aku mengambil ponsel.

Entah kenapa, malam itu aku merasa makanan ini pantas diabadikan.

Aku memotret mangkuk dari berbagai sudut.

Dari atas.

Dari samping.

Dari sudut empat puluh lima derajat.

Setelah lima belas foto, aku sadar bahwa aku sedang memotret mi instan seolah-olah itu makanan bintang lima.

"Ya ampun, Lum. Lu kesepian banget."

Aku memilih satu foto terbaik, membuka Instagram, lalu mulai mengetik caption.

Setelah berpikir selama hampir satu menit, akhirnya kutulis:

"Mi instan tanpa nasi itu cuma camilan."

Aku membaca ulang caption itu.

Sangat filosofis.

Atau sangat bodoh.

Aku belum yakin.

Tanpa pikir panjang, aku menekan tombol unggah.

"Semoga tidak ada ahli gizi yang lihat."

Aku meletakkan ponsel di meja dan mulai makan.

Suara hujan, aroma mi instan, dan udara dingin membuat malam terasa jauh lebih tenang.

Sampai tiga menit kemudian, ponselku bergetar.

Sebuah notifikasi muncul di layar.

@nalaaa mengomentari postingan Anda.

Aku membuka notifikasi itu tanpa curiga.

Lalu membaca komentarnya.

"Karbohidrat ketemu karbohidrat. Besok jangan lupa makan piringnya juga."

Aku terdiam selama dua detik.

Kemudian tertawa sampai hampir tersedak mi.

"Siapa, sih, orang ini?"

Aku belum tahu bahwa komentar receh itu akan mengubah banyak hal dalam hidupku.

Konten dilindungi — dilarang menyalin/menyebarluaskan tanpa izin.

Beri Reaksi

Masuk untuk memberi reaksi

Bab berikutnya

Lanjutkan perjalanan Tombol Ikuti yang Disesali.